| Kemerdekaan |
|
• Penyebutan pertama kali
| 753 |
|
| 1154 |
|
| 1377 |
|
| 1463 |
|
| 1831 |
|
| 1878 |
|
| 1908 |
|
| 1 Maret 1992 |
|
| 0,8 |
Bosnia dan Herzegovina, juga dikenal sebagai
Republik Bosnia dan Herzegovina[butuh rujukan], adalah sebuah negara di semenanjung
Balkan di selatan
Eropa seluas 51.129 km² (19.741 mil
2) dengan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa. Negara Bosnia dikenal dalam bahasa resminya sebagai
Bosna i Hercegovina dalam huruf
Latin dan
Босна и Херцеговина dalam huruf
Sirilik; namun biasanya, dipendekkan menjadi
Bosnia,
BiH atau
БиХ.
Negara ini didiami oleh tiga
kelompok etnik yang utama:
Bosnia,
Serbia dan
Kroasia. Warga Bosnia secara umum dikenali sebagai
Bosnians dalam
bahasa Inggris
tanpa memandang bangsa mereka. Pemerintahan negara ini dilakukan secara
terpencar, dan negara Bosnia sebenarnya terdiri dari persekutuan dua
buah wilayah yang utama, yaitu,
Federasi Bosnia dan Herzegovina dan
Republika Srpska.
Dibatasi oleh
Kroasia di utara, barat, dan selatan,
Serbia di timur, dan
Montenegro di selatan, Bosnia dan Herzegovina adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh daratan kecuali pesisir pantai
Laut Adriatik yang sepanjang 20 km yang berpusat di kota
Neum.
Pedalaman negara ini penuh dengan pegunungan, dan juga sungai yang
kebanyakan tidak bisa ditempuh. Ibu kota yang sekaligus kota terbesar
ialah
Sarajevo.
Sejarah
Sejarah awal
Bosnia
dan Herzegovina merupakan sebuah wilayah perbatasan antara Kebudayaan
Barat, dan Timur. Pada Abad Pertengahan, wilayah tersebut menjadi ajang
pertikaian, dan perebutan pengaruh antara
Romawi Barat yang
Katolik dan
Romawi Timur yang
Ortodoks. Di tengah-tengah pergulatan tersebut, ikut pula sebuah kelompok bid'ah Kristen yang disebut
Bogomil. Sekte ini terutama beranggotakan masyarakat kelas atas Bosnia
[4].
Kekuatan ketiga yang berpengaruh dalam sejarah negeri itu muncul pada akhir
abad ke-13, ketika wilayah tersebut ditaklukkan oleh
Turki Usmani yang beragama
Islam. Pengikut Bogomil berbondong-bondong pindah ke
agama Islam
sehingga agama tersebut lenyap. Perpindahan agama tersebut kebanyakan
terjadi persamaan derajat yang ditawarkan oleh Islam. Jika mereka masuk
Islam maka mereka akan mendapatkan kedudukan yang sama tingginya dengan
orang Islam lainnya, akan tetapi bila mereka tetap pada agama agama
leluhurnya maka mereka akan berstatus sebagai orang -orang yang kalah
dalam peperangan
tunduk dalam aturan Islam.
Hal itu bukan omong kosong belaka. Dalam perkembangannya, kaum Muslim Bosnia mendapatkan status sama dengan
orang Turki asli. Mereka menjadi tangan kanan orang Turki untuk memerintah penduduk Bosnia yang tetap memeluk agama leluhurnya.
Masuknya pemikiran nasionalisme membawa perubahan besar, dan
tajam di Bosnia. Apabila sebelumnya secara umum penduduk wilayah itu
disebut orang Bosnia, dan hanya dibedakan menurut agamanya, kini mereka
mengidentifikasikan diri dengan tetangganya. Orang Bosnia yang menganut
Kristen Ortodoks mengidentifikasikan dirinya sebagai orang
Serbia sementara penganut Katolik menjadi orang
Kroasia.
Ketika Turki melemah, negara-negara jajahannya di Balkan
memerdekakan diri. Salah satu di antaranya adalah Serbia. Negara yang
baru merdeka ini berusaha menggabungkan Bosnia namun ambisinya
digagalkan oleh
Kekaisaran Austria-Hongaria,
yang mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1908. Hal tersebut kemudian
mendorong kaum nasionalis Serbia membunuh putera mahkota kekaisaran
tersebut di
Sarajevo pada tahun
1914, yang kemudian menyebabkan pecahnya
Perang Dunia I.
Setelah
PD I usai, Bosnia dan Herzegovina, bersama-sama dengan Kroasia, Slovenia, dan Vojvodina, diserahkan oleh Austria kepada
Kerajaan Serbia-Montenegro. Dari penggabungan ini muncullah Kerajaan
Yugoslavia (Slavia Selatan).
Akan tetapi perpecahan segera melanda negeri itu akibat
pertentangan dua etnis utamanya. Orang Serbia berusaha membangun negara
kesatuan sementara orang Kroasia menginginkan federasi yang longgar.
Kaum Muslim Bosnia terjebak dalam pertikaian tersebut karena kedua pihak
memperebutkan wilayah tersebut. Beberapa kaum Muslim mendukung klaim
Serbia, dan menyebut dirinya sebagai Muslim Serbia. Namun lebih banyak
lagi yang pro -Kroasia, dan menyebut dirinya sebagai orang Muslim
Kroasia. Pertentangan tersebut kemudian meledak menjadi kekerasan
setelah
Jerman Nazi menguasai Yugoslavia tahun
1941.
Negeri yang terkoyak
Setelah menaklukkan Yugoslavia,
Hitler
menggabungkan bekas provinsi Kroasia, Bosnia dan Herzegovina ke dalam
negara boneka yang disebut sebagai Negara Kroasia Merdeka (lebih dikenal
dengan inisial Kroasianya, NDH). Negara tersebut dipimpin oleh
Ante Pavelic,
pemimpin organisasi nasionalis ekstrem Kroasia, Ustasa (pemberontak).
Rezim NDH ini berusaha membersihkan wilayahnya dari orang Serbia,
Yahudi, dan
Gipsi.
Oleh karena besarnya jumlah penduduk Serbia di NDH, kaum Ustasa
bersekutu dengan kaum Muslim guna mengimbanginya. Banyak orang Muslim
yang bergabung dengan rezim tersebut, di mana bahkan wakil presiden, dan
menlu NDH adalah tokoh-tokoh Muslim.
Kaum Muslim juga bergabung dengan Jerman dalam memerangi gerilyawan, baik Chetnik maupun Partisan. Dua divisi
SS (
Schutzstaffel, pengawal elit Hitler yang ditakuti) dibentuk dari kalangan kaum Muslim Bosnia, yaitu Divisi 'Handzar' dan 'Kama'.
Banyak orang Serbia yang selamat bergabung dengan gerilyawan
Chetnik yang pro-raja, dan kemudian melancarkan pembantaian balasan
terhadap orang Kroasia, dan Muslim. Konflik etnis berdarah ini
memberikan keuntungan bagi kelompok Partisan pimpinan Tito. Oleh karena
berhaluan komunis yang tidak membeda-bedakan latar belakang etnis, dan
agama, kelompok ini menarik pendukung dari berbagai latar belakang yang
tidak menyukai pertumpahan darah di antara sesama warga Yugoslavia.
Dengan demikian, kaum Partisan berhasil merebut kekuasaan di seluruh
Yugoslavia setelah usainya perang.
Zaman Tito
Setelah meraih kekuasaan atas Yugoslavia,
Josip Broz Tito berusaha membangun kembali persaudaran negeri itu di bawah bendera
komunisme.
Dalam upayanya untuk mengatasi perselisihan antar kelompok etnis, dan
agama, dia membentuk negeri itu menurut sistem federal yang ditarik
berdasarkan etnisitas.
Bosnia, yang karena memiliki penduduk yang plural, merupakan
ujian berat bagi Tito. Orang Serbia menuntut penggabungan wilayah
tersebut karena penduduk Serbia yang hampir mencapai setengah dari total
penduduk di sana pada masa itu. Akan tetapi Tito menolaknya. Dia tidak
ingin membuat Serbia menjadi kuat seperti sebelumnya. Oleh karena itu,
dia memutuskan untuk memecah belah orang Serbia. Wilayah Serbia
diperkecil dengan membentuk dua republik federal (yaitu Montenegro, dan
Makedonia) serta dua provinsi otonom (
Vojvodina dan
Kosovo).
Tito, sebagai seorang Kroasia-Bosnia, memutuskan bahwa wilayah Bosnia
dan Herzegovina harus menjadi sebuah republik federal. Dengan demikian,
orang Serbia dapat diimbangi oleh gabungan Muslim-Kroasia di wilayah
tersebut.
Dalam menghadapi ketidakpuasan atas keputusan tersebut, rezim
Tito
memakai tangan besi untuk menghadapinya. Cara tersebut memang efektif
tetapi hanya untuk sementara waktu. Ketika Tito meninggal, pertikaian
antar etnik, dan agama kembali meletus di Yugoslavia, yang kemudian
meruntuhkan negara tersebut.
Kemerdekaan Bosnia dan Herzegovina
Peta pembagian entitas politik di Bosnia dan Herzegovina
Yugoslavia terpecah-belah pada tahun 1991 setelah runtuhnya
rezim-rezim Komunis di Eropa Timur. Mengikuti contoh Kroasia, dan
Slovenia, pada bulan
Maret 1992
Bosnia dan Herzegovina menyatakan kemerdekaannya melalui referendum
yang diikuti oleh masyarakat Muslim, dan Kroasia Bosnia. Hal tersebut
ditentang oleh penduduk Serbia yang ingin menguasai seluruh wilayah
eks-Yugoslavia.
Di bawah pimpinan
Radovan Karadzic, orang Serbia Bosnia memproklamasikan Republik Srpska. Dengan bantuan pasukan federal pimpinan Jenderal
Ratko Mladic,
orang Serbia Bosnia berhasil menguasai 70 persen wilayah negeri itu.
Dalam konflik ini, etnis Serbia yang mayoritas berusaha melenyapkan
etnis Muslim, dan Kroasia. Terjadilah pembantaian terbesar dalam sejarah
yang jumlah korbannya hanya kalah oleh Perang Dunia. Pembunuhan,
penyiksaan, dan pemerkosaan olah Kaum Serbia kemudian menyebabkan
pemimpin-pemimpin Serbia ditetapkan sebagai penjahat perang oleh PBB.
Dalam perkembangan terakhirpun mereka menyatakan tidak puas karena tidak
berhasil membersihkan etnik Muslim-Bosnia.
Akhirnya, setelah perang berdarah yang berlarut-larut, perdamaian di antara ketiga kelompok tersebut berhasil dipaksakan oleh
NATO. Sesuai dengan
Kesepakatan Dayton tahun
1995,
keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan namun negara
tersebut dibagi dalam dua bagian: 51% wilayah gabungan Muslim-Kroasia
(Federasi Bosnia dan Herzegovina) dan 49% Serbia (Republik Srpska).
Kini negeri tersebut mulai menghirup perdamaian, dan ketiga belah
pihak berusaha membangun saling percaya. Akan tetapi memang perlu waktu
lama untuk menghapuskan permusuhan berabad-abad itu. Salah satu hal
yang diusahakan untuk membangun saling percaya tersebut adalah mengadili
para penjahat perang. Mantan Presiden Republik Srpska
Radovan Karadžić berhasil ditangkap pada
21 Juli 2008, sementara mantan Panglima Tentara Federal Jenderal
Ratko Mladic tertangkap pada bulan Mei
2011[5], dan sedang menjalani proses pengadilan di
Mahkamah Internasional.
Pembagian administratif
Bosnia dan Herzegovina dibagi menjadi
Federasi Bosnia dan Herzegovina dan
Republika Srpska.
Distrik Brčko bukan bagian kedua entitas politik ini, tetapi diperintah secara supranasional, dan dijaga oleh tentara internasional.
Federasi Bosnia dan Herzegovina dibagi menjadi 10
kanton:
Kelompok etnis
Di dalam Bosnia dan Herzegovina, terdapat tiga kelompok etnis yang dikenal dengan nama "bangsa penyusun":
Bosnia,
Kroasia, dan
Serbia. Bangsa penyusun ini membentuk mayoritas pada ketiga daerah administratif yang memang dibentuk pada
Perjanjian Dayton
untuk masing-masing kelompok etnis: bangsa Bosnia dan Kroasia menduduki
Federasi Bosnia dan Herzegovina, bangsa Serbia menduduki Republika
Srpska, dan Distrik Brčko dibagi rata untuk kedua entitas politik. Walau
begitu, bukan berarti tiap kelompok etnis menduduki daerah yang
ditetapkan secara eksklusif; sebagai contoh, beberapa kelompok bangsa
Bosnia yang terusir dari rumah mereka di Republika Srpska semasa
Perang Bosnia telah kembali lagi setelah perang berakhir.
Agama
Islam (45%)
Kristen Ortodoks (36%)
Kristen Katolik (15%)
Kristen Protestan (1%)
Lain-lain (3%)
Bosnia merupakan salah satu negara paling multi-religius di daerah
Balkan karena tak ada agama yang membentuk mayoritas mutlak. Dikenal
sebagai tempat di mana "Timur bertemu Barat", disinilah tempat di mana
Kekaisaran Romawi Kuno pecah menjadi Kekaisaran Romawi Barat yang
menganut Kristen Katolik dan Kekaisaran Romawi Timur (atau Bizantin)
yang menganut Kristen Ortodoks. Perbedaan kepercayaan ini ditambah
dengan kedatangan bangsa Turki Utsmaniyah pada abad ke-15 yang membawa
Islam. Ibu kota Bosnia sendiri, Sarajevo, dikenal sebagai "
Yerusalem
Eropa" karena, sampai abad ke-20, merupakan satu-satunya tempat di
Eropa di mana terdapat Gereja, Masjid, dan Sinagoge yang berdiri
berdampingan.
Identifikasi keagamaan di Bosnia dan Herzegovina relatif penting
karena masih hangatnya keadaan politik antar-suku. Sejak kemerdekaan
Balkan dari Kesultanan Utsmaniyah, tiap suku sangat erat dihubungkan
dengan agama; pada zaman Federasi Yugoslavia, seseorang yang
mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari bangsa Bosnia otomatis akan
didaftarkan sebagai "Muslim" bahkan jika orang tersebut tidak menganut
agama Islam. Dalam Yugoslavia, tiap suku diidentifikasikan sebagai
berikut: bangsa Serbia, Montenegro, dan
Makedonia, menganut Kristen Ortodoks; bangsa Kroasia dan Slovenia menganut Kristen Katolik; dan bangsa Bosnia dan
Albania
menganut Islam. Hal ini dibawa pada perpecahan Yugoslavia; faktanya,
Perang Yugoslavia selain disebabkan oleh konflik antar-etnik juga
didorong oleh konflik antar-agama berkepanjangan.
Badan Pusat Statistik Bosnia memperkirakan afiliasi agama sebagai
berikut: 45% Muslim (sebagian besar bangsa Bosnia), 36% Kristen
Ortodoks (sebagian besar bangsa Serbia), dan 15% Kristen Katolik
(sebagian besar bangsa Kroasia), dengan 1% sisanya menganut Kristen
Protestan serta 3% lain-lain (ateis, Yahudi, dll.).
Bahasa
Konstitusi Bosnia tidak menetapkan bahasa resmi untuk Bosnia dan Herzegovina. Walau begitu, ditulisnya Perjanjian Dayton dalam
bahasa Bosnia,
Kroasia, dan
Serbia (serta
bahasa Inggris) menetapkan ketiga bahasa sebagai bahasa resmi
de facto
dalam tingkat negara. Pada tahun 2000, Mahkamah Konstitusi menetapkan
bahwa ketiga bahasa memiliki derajat sama dan ditetapkan sebagai bahasa
resmi untuk Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska. Ketiga
bahasa memiliki kepahaman antar bahasa tinggi karena sebelum Perang
Yugoslavia, ketiganya dikenal sebagai satu bahasa, yaitu
bahasa Serbo-Kroasia yang ditulis dengan
Sirilik.
Panasnya politik daerah Balkan pada tahun 1990-an menyebabkan tiap
kelompok etnis membentuk dialek berbeda, serta pergantian penulisan
menggunakan
Alfabet Latin
untuk bahasa Bosnia dan Kroasia. Hingga saat ini, penggunaan dialek
bahasa Serbo-Kroasia berbeda menjadi penunjuk identitas bangsa etnis
masing-masing.
Menurut
Piagam Eropa untuk Bahasa Regional dan Minoritas pada tahun 1992, Bosnia dan Herzegovina mengakui beberapa bahasa minoritas sebagai berikut:
Albania,
Montenegro,
Ceko,
Italia,
Hungaria,
Makedonia,
Jerman,
Polandia,
Romani,
Rumania,
Rysin,
Slovakia,
Slovenia,
Turki,
Ukraina, dan
Israel. Minoritas Jerman di Bosnia dan Herzegovina kebanyakan adalah sisa-sisa
Donauschwaben (Danube Swabians), yang menetap di daerah itu setelah
monarki Habsburg mengklaim Balkan dari
Kekaisaran Ottoman. Karena pengusiran dan asimilasi paksa setelah
Perang Dunia II, jumlah etnis Jerman di Bosnia dan Herzegovina berkurang drastis.
Galeri
-
-
-
Sebuah jembatan di
Višegrad juga dikenal sebagai "jembatan di atas
drina" (sekitar 1890)
-
-
Air terjun di
Jajce
Sumber : id.wikipedia.org